Penelitian Ilmiah Kulit Manggis

PENEMUAN BARU: Peneliti manggis dari Fakultas Teknologi, Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr Indah Yuliasih, menunjukkan hasil penelitian dari jus manggis yang diyakini berkhasiat bagi kesehatan.

BOGOR-Kulit buah tak selalu harus dibuang. Sebab, siapa tahu masih ada manfaat yang bisa diambil dari kulit buah yang kita konsumsi, terutama kulit buah manggis. Ya, si hitam manis itu disebut-sebut memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, terutama bagian kulitnya. Benarkah?

Dr Indah Yuliasih, peneliti manggis dari Fakultas Teknologi, Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) sudah menemukan jawaban­nya. Menurut dia, kulit buah manggis memiliki 99 khasiat bagi kesehatan. Yang paling sohor adalah mencegah penuaan dini alias membuat awet muda.

Dari hasil risetnya yang dipaparkan di hadapan sejumlah wartawan di Kampus IPB Baranangsiang, Kamis (2/2), ditemukan fakta bahwa kulit bagian dalam manggis mengandung Xanthone. Yakni senyawa bioaktif yang berstruktur cincin enam karbon dengan kerangka karbon lengkap. “Turunan Xanthone berupa a-mangostin merupakan komponen yang paling banyak terdapat pada kulit manggis,” tutur Indah.

Menurut dia, Xanthone merupakan bahan aktif bersifat antikanker dan antioksidan yang sangat tinggi. Bahkan, beberapa kali lipat melebihi kekuatan vitamin C dan E. Namun sayang, belum banyak masyarakat yang mengetahui manfaatnya. Padahal, di luar negeri, kulit manggis sangat mahal. “Ada produk ekstrak Xanthone yang harganya sampai Rp1,2 juta untuk enam botol berukuran 350 mililiter,” sebutnya.

Lantas bagaimana cara mengolah kulit manggis agar mendatangkan manfaat bagi kesehatan? Bersama sejumlah mahasiswanya, Indah meramu kulit buah manggis menjadi jus atau minuman kesehatan. Cara pembuatannya pun sangat mudah.

Pertama, pisahkan kulit manggis dengan buahnya. Pengolahan bisa dengan mengikutsertakan biji manggis (kaya lemak) atau hanya sekadar kulitnya. Gunakan sendok untuk mengeruk bagian dalam kulit yang sudah dibersihkan, dan pisahkan dari kulit keras di bagian luarnya. Kemudian, campur dengan ethanol dan air dengan perbandingan 1:2 lalu hancurkan dengan blender. Endapkan selama 24 jam, setelah itu saring untuk memisahkan ampas dengan ekstrak Xanthone kulit manggis.

Jangan khawatir soal rasa. Untuk menghadirkan rasa yang nikmat dan segar, bisa dicampur dengan madu dan diberi ekstrak bunga rosela, serta anggur atau apel sebagai penambah rasa. “Hasil pencampuran Xanthone dengan rosela dan madu dipanaskan dengan suhu 90-95 derajat Celsius selama 10 menit untuk menguapkan ethanol. Setelah itu, dinginkan dengan suhu kamar lalu campurkan dengan flavor anggur atau apel,” paparnya.

Tidak sampai di situ. Ampasnya juga berfungsi sebagai scrub untuk luluran. Dengan berbagai manfaat tersebut, Indah berharap jus kulit manggis ini bisa diproduksi secara massal.(nad)

Source : http://www.radar-bogor.co.id/index.php?rbi=berita.detail&id=88615

Biografi Peneliti : Dr. Hj. Indah Yuliasih, S.TP, M.Si, http://tin.fateta.ipb.ac.id/index.php/en/component/datatin/viewdosen/132.145.717

Hasil Riset Kulit Manggis

Khasiat manggis mengatasi jantung koroner itu sejalan dengan riset Dachriyanus. Peneliti dari Jurusan Farmasi, Universitas Andalas, itu menunjukkan 30 mg ekstrak manggis per kg bobot tubuh mampu menurunkan 24,55% kadar kolesterol total darah mencit. Begitu Dachriyanus meningkatkan dosis menjadi 100 mg, kadar kolesterol turun 42,26%.

Pantas pembuluh darah jantung George (kesaksian George Leasa) yang semula menyempit akibat timbunan kolesterol, terus terkikis. Hingga kini George tetap rutin mengonsumsi jus kulit manggis dengan dosis tetap. Ia bukan satu-satunya yang merasakan khasiat kulit manggis. Kulit buah anggota famili Clusiaceae itu juga membantu kesembuhan Hardjono, pengidap kanker prostat pada 2010. Pensiunan pegawai negeri itu mengonsumsi 20 ml jus kulit manggis 2 kali sehari. Dua bulan kemudian, sakit mendera saat berkemih sirna. Ia kembali lancar berurine. Sayang, ia belum memeriksakan diri ke dokter. Jus kulit manggis yang membantu kesembuhan mereka-George dan Hardjono-memang banyak tersedia di pasaran.

Mereka meresepkan kulit manggis untuk mengatasi beragam penyakit degeneratif. Amankah mengonsumsi rebusan kulit manggis? Riset PT Industri Jamu Borobudur yang bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Surakarta membuktikan, ekstrak kulit manggis tidak toksik. Melalui uji toksisitas subkronik, terbukti ekstrak kulit manggis tidak mempengaruhi profil kimia darah, ginjal, maupun hati. Hingga dosis 750 g masih aman konsumsi.

Apa yang menyebabkan kulit manggis ampuh mengatasi berbagai penyakit?

Ahli farmasi dari Universitas Indonesia, Dr Berna Elya Apt MSi, mengatakan kulit manggis mujarab mengatasi beragam penyakit berkat senyawa xanthone. Senyawa itu antioksidan tingkat tinggi. “Kandungan antioksidan kulit manggis 66,7 kali wortel dan 8,3 kali jeruk,” kata ahli teknologi pangan dari Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Dr Ir Raffi Paramawati.

Berna menuturkan xanthone memiliki gugus hidroksida (OH) yang efektif mengikat radikal bebas di dalam tubuh. Radikal bebas merusak sel tubuh. Raffi mengatakan kulit manggis andal menetralisir radikal bebas. Lihatlah nilai oxygen radical absorbance capacity (ORAC) xanthone mencapai 17.000-20.000. Bandingkan dengan sumber antioksidan lain seperti anggur yang “hanya” 1.100; sedangkan apel (1.400).

Trio mangostin

Alfamangostin-antioksidan kuat dan bagian kelompok xanthone-meningkatkan aktivitas enzim lipoprotein lipase dan katabolisme very low density lipoprotein (VLDL). Itu lipoprotein berdensitas sangat rendah. Berkat enzim lipoprotein lipase, VLDL yang kaya trigliserida itu terhidrolisis menjadi asam lemak dan gliserol. Hasil samping penguraian berupa kolesterol, fosfolipid, dan apoprotein yang akan dipindahkan ke HDL. Akibatnya kadar kolesterol total, trigliserida, dan LDL turun; kadar HDL atau kolesterol baik meningkat.

Soal kulit manggis antikanker? Yukihiro Akao peneliti dari Institut Bioteknologi Gifu, Jepang, menyibak tabir itu. Menurut Akao alfamangostin berperan mengendalikan sel kanker dengan mekanisme apoptosis alias proses bunuh diri sel. Selain itu alfamangostin juga mengaktifkan sistem kekebalan tubuh dengan merangsang sel pembunuh alami yang bertugas membunuh sel kanker dan virus.

Menurut peneliti Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Dr Agung Endro Nugroho MSi Apt, manggis mengandung 50 senyawa xanthone. ”Dari ke-50 senyawa itu yang paling banyak dilaporkan memiliki efek farmakologis adalah alfamangostin, gammamangostin, dan garsinon-E,” ujar Agung. Alfamangostin dan gammamangostin memiliki efek antioksidan.

”Alfamangostin dan garcinon-E menghambat proliferasi sel kanker dengan mengaktivasi enzim kaspase 3 & 9 yang memicu apoptosis atau program bunuh diri sel kanker,” ujar Agung. Pantas setahun belakangan kulit manggis menjadi buah bibir karena begitu hebatnya kandungan senyawa aktif itu. Akibatnya kian banyak yang memanfaatkan kulit manggis sebagai herbal. Selama ini kulit manggis di negeri produsen terbesar kedua itu kerap terbuang.

Padahal, di negara lain marak penelitian kulit manggis sebagai obat. Para periset di Amerika Serikat, misalnya, meneliti dan memproduksi jus kulit manggis seperti Vemma dan Xango yang juga beredar di Indonesia.

Menurut Raffi, ekstrak dan jus kulit manggis menempati peringkat 10 besar sebagai suplemen makanan paling tren di Amerika Serikat versi Datamonitor’s ProductScan Online. Jepang juga getol meriset khasiat kulit manggis sejak 2000. Malaysia mengembangkan kulit manggis sebagai herbal antiplatelet alias obat-obat yang menghambat pembekuan darah. Di tanahair beberapa produsen seperti PT Industri Jamu Borobudur memproduksi kapsul ekstrak kulit manggis sejak 2007. Menurut Joko Kawiyanto dari PT Industri Jamu Borobudur, kapsul ekstrak kulit manggis bermerek Mastin berkhasiat sebagai antioksidan serta antipenuaan dini. Irman Setiawan, manajer pabrik PT Industri Jamu Borobudur, mengatakan 20% produksi ekstrak kulit manggis diekspor ke Malaysia. Ada juga produk lainnya dengan merek kapsul kulit manggis Tazakka / Darusysyifa.

PT Inti Kiat Alam, mengolah jus kulit manggis bermerek Xamthone Plus sejak 2008. Meski tergolong baru, sambutan konsumen menggembirakan. Jika produksi perdana pada 2008 hanya 10.000 botol, “Pada tahun berikutnya permintaan meningkat hingga 600%,” ujar Konradus Pedhu dari Xamthone Plus Syariah, distributor jus manggis Xamthone Plus. Lonjakan permintaan itu membuktikan kulit manggis menjadi sandaran pasien untuk menggapai kesembuhan.

Sumber: http://gsaturn.blogspot.com/2012/03/hasil-riset-kulit-manggis.html

Kulit Manggis Untuk Kesehatan

ADA satu ungkapan yang sering dijumpai di masyarakat, “Biar hitam si buah manggis.” Ungkapan tersebut digunakan untuk menilai sesuatu jangan dilihat dari bentuk luarnya saja, tetapi lihatlah isinya. Begitu juga untuk menilai buah, jangan melihat kulit buah manggis yang berwarna cokelat hitam, tetapi daging buahnya yang berwarna putih, bertekstur halus, dan rasanya yang manis sekali bercampur asam sehingga menimbulkan rasa khas dan segar.

Buah bernama Latin Garcinia mangostana L. ini termasuk famili Guttiferae dan merupakan spesies terbaik dari genus Garcinia. Manggis termasuk buah eksotik yang sangat digemari oleh konsumen, baik di dalam maupun luar negeri, karena rasanya yang lezat, bentuk buah yang indah, dan tekstur daging buah yang putih halus. Tidak jarang jika manggis mendapat julukan Queen of tropical fruit (Ratunya Buah-buahan Tropik).

Pada umumnya masyarakat memanfaatkan tanaman manggis karena buahnya yang menyegarkan dan mengandung gula sakarosa, dekstrosa, dan levulosa. Komposisi bagian buah yang dimakan per 100 gram meliputi 79,2 gram air, 0,5 gram protein, 19,8 gram karbohidrat, 0,3 gram serat, 11 mg kalsium, 17 mg fosfor, 0,9 mg besi, 14 IU vitamin A, 66 mg vitamin C, vitamin B (tiamin) 0,09 mg, vitamin B2 (riboflavin) 0,06 mg, dan vitamin B5 (niasin) 0,1 mg. Kebanyakan buah manggis dikonsumsi dalam keadaan segar, karena olahan awetannya kurang digemari oleh masyarakat.

Selain buah, kulit buah manggis juga dimanfaatkan sebagai pewarna alami dan bahan baku obat-obatan. Kulit buah mengandung senyawa Xanthone yang meliputi mangostin, mangostenol, mangostinon A, mangostenon B, trapezifolixanthone, tovophyllin B, alfa mangostin, beta mangostin, garcinon B, mangostanol, flavonoid epicatechin, dan gartanin. Senyawa tersebut sangat bermanfaat untuk kesehatan. Senyawa Xanthone tersebut hanya dihasilkan dari genus Garcinia. Di luar negeri kulit buah manggis sudah dibuat kapsul yang digunakan untuk suplemen diet, antioksidan, dan antikanker.

Hasil penelitian menunjukkan, ekstrak kulit manggis mempunyai aktivitas melawan sel kanker meliputi breast, liver, dan leukemia. Selain itu, juga digunakan untuk antihistamin, antiimpflamasi, menekan sistem saraf pusat, dan tekanan darah, serta antiperadangan. Kulit buah juga mengandung antosianin seperti cyanidin-3-sophoroside, dan cyanidin-3-glucoside.

Senyawa tersebut berperan penting pada pewarnaan kulit manggis. Kulit buahnya mengandung senyawa pektin, tanin, dan resin yang dimanfaatkan untuk menyamak kulit dan sebagai zat pewarna hitam untuk makanan dan industri tekstil, sedangkan dan getah kuning dimanfaatkan sebagai bahan baku cat dan insektisida.Efek biologi & farmakologi

Rebusan kulit buah manggis mempunyai efek antidiare. Buah manggis muda memiliki efek speriniostatik dan spermisida. Ekstrak (n-heksana dan etanol) manggis memiliki tingkat ketoksikan tertentu pada penggunaan metode uji Brine Schrimp Test (BST). Dari hasil penelitian dilaporkan bahwa alfa mangostin (1,3,6-trihidroksi-7-metoksi-2,8-bis (3metil-2-butenil)-9H-xanten-9-on) hasil isolasi dari kulit buah manggis mempunyai aktivitas antiinflamasi dan antioksidan.

Dari hasil studi farmakologi dan biokimia dapat diketahui bahwa alfa mangostin secara kompetitif menghambat tidak hanya reseptor histamin H, mediator kontraksi otot lunak tetapi juga epiramin yang membangun tempat reseptor H1 pada sel otot lunak secara utuh.

Mangostin merupakan tipe baru dari histamin. Toksisitas pemberian ekstrak daun muda terhadap mencit bunting dengan dosis 500, 1000, dan 1500 mg/kg BB menunjukkan efek pada fetus berupa penurunan berat badan, terjadinya perdarahan pada fetus, dan adanya perubahan jaringan hati fetus seperti nekrosis pada sel hepar, tetapi tidak terjadi kelainan perkembangan dan aborsi. Ekstrak daun manggis dengan berbagai dosis dapat mengurangi jumlah sel spermatid, terjadi penambahan jumlah spermatozoa abnormal, dan lambatnya gerak maju spermatozoa mencit.

Ekstrak kulit buah yang larut dalam petroleum eter ditemukan dua senyawa alkaloid. Kulit kayu, kulit buah, dan lateks kering Garcinia mangostana mengandung sejumlah zat warna kuning yang berasal dari dua metabolit yaitu alfa-mangostin dan mangostin yang berhasil diisolasi. Mangostin merupakan komponen utama sedangkan mangostin merupakan konstituen minor. Ditemukan metabolit baru yaitu 1,3,6,7-tetrahidroksi-2,8-di (3-metil-2butenil) xanton yang diberi nama a-mangostanin dari kulit buah Garcinia mangostana.

Buah manggis digunakan untuk mengobati diare, radang amandel, keputihan, disentri, wasir, luka/borok. Selain itu, digunakan sebagai peluruh dahak dan untuk sakit gigi. Kulit buah manggis digunakan untuk mengobati sariawan, disentri, nyeri urat, sembelit. Kulit batang digunakan untuk mengatasi nyeri perut. Akar untuk mengatasi haid yang tidak teratur. Dari segi rasa, buah manggis cukup potensial untuk dibuat sari buah.

Dr. Ir. Warid Ali Qosim, M.S. (Dosen Jurusan Budi Daya Pertanian dan Tim Ahli Divisi TTG Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Universitas Padjajaran.)

Source : http://www.xamthone.web.id/kulit-manggis-untuk-kesehatan.html

Aneka Riset Khasiat Kulit Manggis

Penelitian kulit manggis di mancanegara sudah berlangsung sejak dekade 1900-an. Beberapa riset menunjukkan konsumsi beberapa varietas manggis mujarab untuk diet nutrisi. Penelitian lain menyebutkan peran manggis untuk mengatasi infeksi dan meningkatkan kekebalan tubuh secara alami sehingga dapat membantu mengobati penyakit kanker, antiinflamasi, hingga sklerosis. Sampai saat ini penelitian-penelitian mengenai khasiat kulit manggis itu masih terus berjalan.

 1.  Antiinflamasi

Inflamasi berarti terjadi peradangan di tubuh bukan akibat mikroorganisme atau non-infeksi. Gejala yang mudah terlihat dari peradangan itu adalah gejala panas, kemerahan, dan bengkak yang seringkali disertai rasa nyeri. Inflamasi yang timbul dapat mengganggu proses di tubuh terutama pada jaringan mikrovaskuler. Kulit manggis yang banyak memiliki xanthones dapat berperan sebagai antiinflamasi atau antiradang.

Peneliti dari Department of Pharmaceutical Molecular Biology, Graduate School of Pharmaceutical Sciences Universitas Tohoku di Jepang seperti tertuang di jurnal Biochemical Pharmacology pada 2002 menyimpulkan pada percobaan memakai mencit, kandungan xanthones pada manggis dapat menghambat aktivitas prostaglandin E2 (PGE2). Aktivitas itu penting dihambat karena prostaglandin bersama berbagai sitokin dapat menginduksi enzim cyclooxygenase (COX) 2 yang memicu timbulnya rasa nyeri, seperti sehabis operasi. Selama ini COX 2 dihambat dengan pemberian obat antiinflamasi non steroids (AINS) yang dikenal sebagai COX inhibitor.

Beberapa studi juga memperlihatkan peran xanthones sebagai antiinflamasi. Riset dari Departemen of Pharmaceutical Biology dari Universitas Tohoku juga menjelaskan alpha mangostin dapat menghalangi pembentukan histamine. Histamin merupakan protein yang terlibat dalam berbagai reaksi alergi di tubuh dan menyebabkan peradangan sehingga secara langsung dapat meningkat tekanan darah yang memicu hipertensi. Histamine juga dapat menyebabkan penyempitan pada jaringan otot halus.

2.  Antikanker

Sifat antikanker juga dimiliki oleh manggis. Pada 2002, peneliti dari Departement of Microbiology, Faculty of Pharmacy Universitas Mahidol di Thailand pada 2002 telah meriset 8 jenis tanaman herbal yang memiliki sifat antikanker terhadap aktivitas adenokarsinoma di saluran payudara—kanker payudara—dengan menggunakan MTT assay. Riset itu menyimpulkan kandungan alpha mangostin pada manggis memiliki efek terkuat dalam menimbulkan efek apoptosis atau kematian sel-sel kanker.

Penelitian serupa yang dilakukan tim dari Tumor Pathology Division, Faculty of Medicine, Universitas Ryukyus di Okinawa, Jepang, juga menjelaskan hal serupa saat melakukan percobaan menggunakan mencit untuk melihat kemampuan alpha mangostin menghambat pertumbuhan sel-sel kanker kolon selama 5 minggu perlakuan. Riset itu menyimpulkan alpha mangostin potensial digunakan sebagai kemopreventif.

Senyawa garcinone E yang merupakan bagian dari xanthones juga tak kalah ampuh menumpas kanker. Penelitian yang dilakukan oleh Medical Research and Education Departement of the Veterans General Hospital di Taipei, Taiwan maupun tim dari Departement of Chemistry, Faculty of Science Universitas Srinakharinwirot di Thailand, menunjukkan senyawa garcinone E memiliki sifat apoptosis kuat terhadap sel kanker paru-paru. Riset yang memakai 6 jenis senyawa xanthones itu juga memberikan kesimpulan bila senyawa garcinone E dapat dipertimbangkan sebagai salah satu bahan untuk mengobati berbagai jenis kanker.

 3.  Penyakit lain

Tidak hanya antiinflamasi dan antikanker yang telah diteliti mendalam. Kemampuan senyawa di manggis untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh saat melawan infeksi juga telah di teliti oleh periset dari Departement of Clinical Microscopy, Faculty of Associated Medical Science Universitas Chiang Mai di Thailand. Penelitian itu menyimpulkan ekstrak kulit manggis mampu membunuh bakteri melalui mekanisme stimulating phagosit atau sel bakteri saling memakan.

Penyakit tuberkulosis yang menjadi salah satu penyakit pencabut nyawa terbesar di negara-negara dunia ketiga juga dapat disingkirkan dengan senyawa xanthones. Riset tim Departemen of Chemistry Universitas Srinakharinwirot di Thailand menjelaskan alpha mangostin, beta mangostin, dan garcinone B pada senyawa xanthones berefek menghambat pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis. Hal ini menjadi penting karena pemberian antibiotik untuk mengobati penyakit TBC itu semakin hari tidak efektif lantaran Mycobacterium tuberculosis telah kebal.

Studi lain memperlihatkan kandungan senyawa aktif pada manggis juga diduga kuat dapat menjadi antijamur dan antivirus. Sebagai antivirus, mekanisme itu dapat terjadi lantaran senyawa aktif pada manggis memang memiliki kemampuan meningkatkan sistem kekebalan tubuh alami. Virus yang sejauh ini tidak dapat berkembang apabila sistem imun di tubuh baik. Hal ini dapat menjadi kabar baik bagi penderita HIV yang memiliki sistem kekebalan tubuhnya rendah.

Source : http://www.bebeja-agribisnis.com/aneka-riset-khasiat-kulit-manggis/

Ajaibnya Kulit Manggis

Sumber : Majalah Trubus

Keajaiban Kulit Manggis: French paradoks, merupakan istilah terkenal di kalangan ahli gizi tentang kebiasaannya orang Perancis menkonsumsi red wine. Masyarakat di negara tersebut terkenal sebagai pengkonsumsi lemak lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk negara di Eropa lain. Akan tetapi, hal yang umum, terkena penyakit jantung justru paling rendah. Gejala itu diteliti dengan seksama sampai pada akhirnya muncul kesimpulan yaitu kebiasaan masyarakat Perancis duduk – duduk di cafe dengan minum red wine. Ini menjadi penyebab berkurangnya resiko penyakit jantung, meskipun konsumsi lemak sangat banyak.

Red wine menjadi penyelamat atau solusi karena mengandung polifenol. Polifenol merupakan senyawa atau zat yang banyak terkandung di berbagai macam buah-buahan, seperti blueberry, blackberry, apel, melon, buah pir, serta anggur. Di buah-buahan tersebut memiliki aktivitas antioksidan yang mempunyai peran melenturkan arteri jantung. Alkohol juga mampu melenturkan arteri, akan tetapi tidak sebanyak kombinasi alkohol dengan polifenol, seperti yang ada pada red wine.

French paradoks itu berlawanan dengan cerita buah manggis Garcinia mangostana. Red wine di Perancis menjadi menu minum sehari-hari sejak zaman dahulu, sehingga peminumnya merasakan dampaknya secara langsung. Sementara buah manggis, di beberapa pusat penanaman, selama berada-abad hingga sekarang, hanya terkenal hanya dengan buah segar. Kulit buahnya hanya terbuang percuma, padahal pada kulit itu mengandung polifenol sebagaimana pada red wine. Buah manggis pun mampu melenturkan arteri jantung.

Akan tetapi, manfaat itu terpendam dan tak berguna selama beratus-ratus tahun. Pada zaman dulu di China, kulit manggis kadang-kadang dimanfaatkan untuk obat diare. Jika difikir itu jelas tidak sebanding dengan khasiat kulit manggis yang luar biasa. Seharusnya, jika di ilustrasikan Petarung tangguh untuk melawan lawan yang tangguh. Cocoknya atau lebih hebat lagi jika Kulit manggis ini digunakan untuk melawan kanker, penyakit jantung, diabetes mellitus, dan penyakit-penyakit degeneratif lainnya.

Pengobatan China yang sudah berusia ribuan tahun menjadi contoh atau pelopor penggunakan kulit manggis untuk mencegah penyakit-pebyakit tertentu. Di negara Thailand dan Filipina, kulit manggis umum digunakan untuk mengobati disentri dan infeksi kulit. Di negara Karibia dan Amerika Latin, teh buah manggis dimanfaatkan sebagai pembangkit stamina. Di negara Brazil, dimanfaatkan untuk mengatasi masalah pencernaan. Masyarakat India menggunakan tepung kulit manggis kering untuk mengatasi disentri, luka luar, luka bernanah, dan maag. Di negeri Matahari terbit, Jepang mengenal daun serta batang kulit manggis sebagai untuk herbal berefek antiinflamasi. Sangat sering digunakan untuk mengobati eksem dan penyakit kulit lainnya seperti psoriasis. Di negara Venezuela, kulit manggis digunakan untuk mengobati infeksi kulit akibat parasit.

Laurent Garcin atau penjelajah hutan berkebangsaaan Perancis yang memberi nama Garcinia mangostana pada abad ke-16, sangat mungkin tidak menduga penemuannya ini memiliki manfaat lebih hebat dari pada pengetahuan zaman kuno itu. Semua berawal pada bulan April 1993 saat Munekazu Iinuma mengumpulkan kulit manggis dari berbagai pusat manggis di Indonesia. Kulit manggis itu kemudian dikirim ke Gifu Pharmaceutical University, Jepang.

Di sana, Kenji Matsumoto dan kawan-kawannya, termasuk Munekazu Iinuma, sekitar 2,7kg kulit manggis kering diekstrak dengan heksana, benzena, aseton, dan alkohol 70%. Ekstraksi menghasilkan 6 turunan zat xanthone: a-mangostin, b-mangostin, g-mangostin, mangostinone, garcinone E, dan 2-isoprenyl-1,7-dihydroxy-3-methoxyxanthone.

Kemudian mereka mengambil beberapa sel penyebab leukemia, seperti HL60, K562, NB4, dan U937 dari Riken Cell Bank, Tsukuba, Ibaraki, Jepang. Sel kanker penyebab leukemia itu dikulturkan, selanjutnya senyawa-senyawa xanthone dilarutkan di dalam kultur itu. Hasilnya, sangat terbukti bahwa a-mangostin memicu proses apoptosis sel leukemia.

Bukti Hasil Penelitian Kenji Matsumoto ini menjadi pemicu perhatian ilmuwan dunia khususnya pada manggis. Lima bulan setelah penelitian Kenji Matsumoto, di negara Swiss ada penelitian yang membuktikan bahwa xanthone ampuh mengatasi depresi. Berikutnya penelitian di beberapa negara yang hasilnya saling menguatkan efek xanthone sebagai obat. Di negara Taiwan, pada Mei 1996 dilakukan 2 penelitian yang berbeda. Satu penelitian memberi bukti bahwa khasiat xanthone mengatasi depresi; penelitian lainnya adalah antikanker.

Tiga penelitian selanjutnya dilakukan di Kaohsiung dan Taipei, Taiwan, dan Oregon, Amerika Serikat pada tahun 1996—1997. Hasilnya: penelitian di Kaohsiung membuktikan bahwa senyawa xanthone antithrombotik, penting untuk mengatasi penyakit jantung dan stroke. Xanthone melenturkan pembuluh darah ke arah jantung, jadi ini sangat penting untuk penderita penyakit jantung. penelitian di kota Oregon, xanthone ampuh untuk penyakit malaria. Kemudian, pada tahun 1997—2004, dicatat bahwa minimal ada 24 penelitian tentang xanthone pada kulit manggis dan dilakukan di berbagai negara di penjuru dunia. Hasilnya sangat beragam, antara lain yaitu bermanfaat untuk mengatasi penyakit-penyakit berat seperti diabetes mellitus, arthritis, kanker payudara, dan tuberkulosis.

Kehebatan kulit manggis juga tidak luput dari perhatian peneliti di negara Indonesia. Menurut Dr. Agung Endro Nugroho M.Si. Apt, kulit manggis mengandung sekitar 50 senyawa xanthone. Xanthone ialah bioflavonoid yang bersifat antioksidan, antibakteri, antialergi, antitumor, antihistamin, dan antiinflamasi. Molekul biologi aktif ini mempunyai struktur cincin 6 karbon dan kerangka karbon rangkap, sehingga sangat luar biasa stabil. Di alam ada sekitar 200 jenis xanthone, sejumlah 50 diantaranya ditemukan di kulit manggis.

Senyawa yang paling banyak memiliki efek farmakologis adalah alfamangostin, betamangostin, dan garcinon-E. Pemeran utama pembasmi sel kanker ialah alfamangostin dan garcinon-E. Keduanya menghambat proliferasi sel kanker dengan mengaktivasi enzim kaspase 3 dan 9, yang kemudian memicu apoptosis atau program bunuh diri pada sel kanker. Alfamangostin juga mengaktifkan sistem kekebalan tubuh dengan merangsang sel pembunuh alami yang mempunyai tugas membunuh sel kanker dan virus. Mangostin bersama dengan gammamangostin berperan sebagai antioksidan,yang mampu mencegah aktivitas HIV-1. Kekebalan tubuh meningkat karena antioksidan itu, maka virus penyebab HIV/AIDS pun mampu terhambat perkembangannya.

Xanthone pada kulit manggis mempunyai antioksidan tingkat tinggi. Kandungan antioksidan kulit manggis 66,7 kali wortel dan 8,3 kali kulit jeruk. Sebagai antioksidan, xanthone juga mempunyai gugus hidroksida yang efektif mengikat radikal bebas yang menjadi penyebab rusaknya sel tubuh. Yang lebih Istimewanya lagi, nilai gugus hidroksida pada xanthone sungguh sangat besar yaitu, 17.000—20.000, Padahal nilai ORAC (oxygen radical ansorbance capacity) sumber antioksidan lain, misalnya anggur, hanya 1.100.

Sungguh sangat beruntung Bagi penderita penyakit jantung, temuan manfaat farmakologis kulit manggis bagaikan seperti munculnya secercah cahaya di kegelapan malam. Sungguh, karena penyakit jantung yang memerlukan biaya relatif mahal jika diselesaikan secara kedokteran modern, ternyata dapat diatasi oleh kulit manggis. Hasil penelitian oleh Dachriyanus dari jurusan Farmasi Universitas Andalas menunjukkan bahwa ekstrak kulit manggis menurunkan kadar kolesterol mencit pada berbagai macam dosis. Penyebabnya adalah alfamangostin meningkatkan aktivitas enzim lipoprotein lipase untuk menghidrolisis low density lipoprotein menjadi asam lemak dan gliserol. Kadar LDL turun, HDL naik. Selain itu, pembuluh darah pun akan semakin lentur.

Sebagai senyawa atau zat antioksidan tingkat tinggi, xanthone dari kulit manggis meningkatkan daya tahan tubuh, mengontrol serangan penyakit-penyakit degeneratif, seperti: artritis, osteoartristis, aterosklerosis, trombosis, dan hipertensi. Sebagai buah yang sangat mengandung senyawa antialergi, kulit manggis sangat cocok untuk menangkal aneka alergi. Tercatat juga diabetes mellitus, parkinson, alzheimer, migrain, depresi sebagai penyakit yang dapat diselesaikan oleh kulit manggis.

Source : http://www.traditionalindonesianmedicine.com/blog/kulit-manggis/

Download Penelitian Kulit Manggis

Universitas Gajah Mada, “Manggis (Gracinia Mangostana L) : Dari Kulit Buah Yang Terbuang Hingga Menjadi Kandidat Suatu Obat”, http://ahliherbal.com/artikel/UGM_Manggis_Dari_Terbuang_Menjadi_Obat.pdf

Yayasan Pharmasi Semarang, “Uji Aktivitas Antioksidan Dan Penentuan Kandungan Antosianin Total Kulit Buah Manggis (Gracinia Mangostana L)”, http://ahliherbal.com/artikel/YPS_Uji_Aktivitas_Antioksidan_Kulit_Manggis.pdf

Order Sekarang » SMS :
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama Barang7 Alasan Untuk Tidak Melakukan “Cheat Meals” dan “Cheat Days”
Harga Rp (hubungi cs)
Lihat Detail »
Order Sekarang » SMS :
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangKebijakan Nutrisi Moderen Berdasarkan Kebohongan dan Ilmu yang Buruk
Harga Rp (hubungi cs)
Lihat Detail »
Order Sekarang » SMS :
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangSepuluh Cara untuk Menambah Lemak Sehat dalam Diet
Harga Rp (hubungi cs)
Lihat Detail »
Order Sekarang » SMS :
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangMengapa Telur Tergolong Makanan Sehat? Makanan yang Luar Biasa
Harga Rp (hubungi cs)
Lihat Detail »